Cerita BersambungKarya Tulis

SERENADE BLOOD MOON (chapter 1) — Aksyarain_

Kumpulan chapter — SERENADE BLOOD MOON

🌙🌙🌙

Ketika bulan darah bersinar di langit malam, takdir di tulis ulang dengan nyawa sebagai tintanya.

Di sudut dunia, di mana langit malam menyimpan lebih banyak rahasia daripada yang terlihat, legenda tentang Serenade Blood Moon menjadi bisikan yang ditakuti. Setiap dua ratus tahun, ketika bulan berubah merah seperti darah, seorang gadis terpilih akan menjadi persembahan bagi entitas kuno yang dikenal sebagai Nyx Noctis, penguasa bayangan yang haus akan jiwa manusia.

Altheia, seorang gadis yang sejak lahir ditandai dengan simbol bulan sabit di punggung tangannya, telah ditakdirkan sebagai korban berikutnya. Selama bertahun-tahun, ia hidup dalam ketakutan, menyembunyikan keberadaannya dari para Sentinels, pengawal kerajaan yang bertugas menyerahkan persembahan kepada Nyx Noctis. Namun, pada malam purnama yang bersinar seperti darah, takdirnya berubah ketika seorang pria asing muncul dalam hidupnya.

Aiden, seorang pemburu bayangan dengan masa lalu yang terlupakan, putus asa akan takdir. Dengan iris merah yang bersinar dalam kegelapan, ia membawa aura misterius yang mengancam dan melindungi di saat bersamaan. Saat ia menyelamatkan Altheia dari ritual pengorbanan, rantai nasib yang telah lama terkunci pun terlepas.

Tapi ada yang tidak beres. Mimpi-mimpi aneh mulai menghantui Altheia. Ingatan-ingatan asing yang seharusnya bukan miliknya berkelebat di pikirannya. Aiden tampak mengenalnya lebih dari yang ia sadari, dan kegelapan di dalam dirinya sendiri mulai berbisik pelan seolah sesuatu sedang bangkit di dalam jiwanya.

Saat bulan darah semakin mendekat, Altheia dan Aiden harus berpacu dengan waktu untuk mengungkap rahasia di balik Serenade Blood Moon. Siapa sebenarnya Altheia? Apa yang disembunyikan Aiden? Dan ketika kebenaran akhirnya terungkap, mereka akan dihadapkan pada satu pilihan, menentang takdir atau mengulang tragedi yang telah dituliskan sejak berabad-abad lalu?

🌙🌙🌙

Hujan turun deras di atas kota tua Ravaryn, menggenangi jalanan berbatu yang memantulkan cahaya lentera. Di kejauhan, lonceng berdentang tiga kali, menandai tengah malam.

Altheia berlari. Jubah lusuh yang dikenakannya basah oleh hujan, menempel erat pada tubuhnya yang gemetar. Napasnya pendek dan putus-putus, kakinya gemetar saat berusaha melangkah lebih cepat di atas jalanan licin. Di belakangnya, suara derap langkah kuda semakin mendekat.

“Mereka menemukanku,” gumamnya, ketakutan.

Kilatan petir membelah langit dan gemuruh guntur menggema di antara pepohonan. Hujan semakin deras, membasahi tanah dan menciptakan kubangan lumpur di bawah kaki Altheia yang gemetar.

“Jangan biarkan dia kabur!” teriak salah satu dari mereka.

Tanpa pikir panjang, Altheia membelok ke gang sempit, berharap kegelapan akan menyelamatkannya. Namun langkahnya terhenti ketika ia berhadapan dengan tembok tinggi. Buntu.

“Tidak …” bisiknya, suaranya hampir tak terdengar.

Cahaya obor mendekat dari belakang, mengungkap siluet para Sentinels yang perlahan mengepungnya. Jubah hitam mereka berkibar diterpa angin. Mata mereka bersinar di balik bayangan tudung yang menutupi wajah. Tidak ada jalan keluar.

“Altheia Vyrena,” suara seorang pria berzirah hitam terdengar, dingin tanpa ampun. “Kau telah terpilih sebagai persembahan. Jangan melawan. Takdir telah menunggumu.”

Altheia mundur, punggungnya menempel pada dinding dingin. Matanya mencari jalan keluar, tetapi tak ada tempat untuk berlari. “Aku akan mati di sini,” ucapnya putus asa.

Tetapi sebelum tangan kasar itu sempat meraihnya, bayangan lain muncul. Sebuah gerakan cepat. Cahaya obor seketika padam, angin dingin berdesir melewati gang yang gelap. Lalu terdengar suara, datar, tajam, dan berbahaya.

“Lepaskan dia.”

Hanya siluet samar yang Altheia lihat di sana.

Sentinels-sentinels itu bergerak. Pedang mereka terhunus. Tak ada suara langkah kaki. Tidak ada bayangan yang bergerak. Hanya pekikan singkat sebelum tubuh-tubuh berzirah itu ambruk satu per satu dan darah mengalir di antara bebatuan yang dingin.

Altheia terpaku di tempatnya, jantungnya berdebar keras.

“Siapa dia?” gumamnya dalam hati.

Sebelum sempat memahami apa yang terjadi, pria itu berbalik, menatapnya dengan mata yang berkilau seperti cahaya bulan malam itu.

“Jika kau ingin hidup,” ucapnya, suaranya rendah tetapi cukup untuk menusuk ke dalam pikirannya. “Ikutlah denganku.”

Altheia mendongak, matanya membulat saat melihat sosok itu berdiri di hadapannya. Seorang pria dengan jubah hitam, iris matanya berkilau merah di dalam kegelapan.

Hujan masih turun dengan deras, tetapi Altheia masih mematung di tempatnya. Dinginnya hujan membasahi tubuhnya hingga ke tulang, tetapi jauh lebih dingin tatapan pria yang kini ada di hadapannya. Mata perak itu seakan menusuk ke dalam jiwanya, membaca ketakutannya tanpa perlu kata-kata.

“Aku tidak punya banyak waktu,” suara pria itu rendah, hampir tenggelam dalam gemuruh hujan. “Ikut denganku atau mati sebagai tawanan mereka.”

Altheia menelan salivanya, matanya melirik ke sekeliling. Tubuh-tubuh Sentinels yang tergeletak di tanah, darah mereka bercampur dengan genangan air hujan. Beberapa yang masih bernapas merintih kesakitan, tetapi tidak ada yang cukup kuat untuk bangkit.

Napas Altheia masih tersengal, pikirannya kacau. Namun, jika ia tetap di sini, dia tahu bagaimana akhirnya.

To Be Continue

🌙🌙🌙

Published : 12 Desember 2025—Media Ungu.

Kamu dapat temui karya milik Aksyarain_ pada laman Media Ungu di sini

Jangan lupa kunjungi akun resmi penulis, Tiktok @aksyarain dan Instagram @aksyarain_

2 komentar pada “SERENADE BLOOD MOON (chapter 1) — Aksyarain_

  • Ikha Anggraini

    Wahhhh , ayok lanjut 😍

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *