Cerita BersambungKarya Tulis

SERENADE BLOOD MOON (chapter 2) — Aksyarain_

Kumpulan chapter — SERENADE BLOOD MOON

🌙🌙🌙

Hujan masih turun dengan deras, tetapi Altheia masih mematung di tempatnya. Dinginnya hujan membasahi tubuhnya hingga ke tulang, tetapi jauh lebih dingin tatapan pria yang kini ada di hadapannya. Mata tajam itu seakan menusuk ke dalam jiwanya, membaca ketakutannya tanpa perlu kata-kata.

“Aku tidak punya banyak waktu,” suara pria itu rendah, hampir tenggelam dalam gemuruh hujan. “Ikut denganku atau mati sebagai tawanan mereka.”

Altheia menelan saliva, matanya melirik ke sekelilingnya. Tubuh-tubuh Sentinels yang tergeletak di tanah, darah mereka bercampur dengan genangan air hujan. Beberapa yang masih bernapas merintih kesakitan, tetapi tidak ada yang cukup kuat untuk bangkit. Napasnya masih tersengal, pikirannya kacau. Namun, jika ia tetap di sini, dia tahu bagaimana akhirnya. Tidak ada jalan keluar lain. Dengan ragu, Altheia akhirnya melangkah mendekat.

“Aku … akan ikut denganmu.”

Tanpa peringatan, pria itu menariknya, membawanya menembus hujan. Mereka berjalan melewati gang-gang sempit Ravaryn, menjauh dari pusat kota yang masih diterangi lentera-lentera berpendar. Langkah kaki pria itu nyaris tak bersuara, berbanding terbalik dengan Altheia yang sesekali terpleset di atas bebatuan basah. Beberapa kali ia ingin bertanya, tetapi ketakutan menahannya.

“Siapa dia? Kenapa dia menyelamatkanku? Apa yang dia inginkan?” ia terus bergumam dalam hati.

🌙🌙🌙

Setelah melewati gelapnya hutan, pria itu akhirnya berhenti di depan sebuah bangunan kastil tua yang menjulang di antara kabut. Bangunan itu tampak seperti bagian dari malam itu sendiri, tertutup bayangan dan lumut yang merambat di dinding batu.

Aiden mendorong pintu kayu besar yang seketika berderit keras, mengungkapkan bagian dalam kastil yang suram dan gelap. Cahaya temaram dari lilin-lilin yang menyala di sepanjang dinding menjadi satu-satunya penerangan.

Altheia menatap sekelilingnya penuh kewaspadaan. Langit-langit tinggi, pilar-pilar kokoh, dan karpet tua yang terbentang di sepanjang lantai marmer. Aroma debu dan kayu tua memenuhi udara. Aiden melepaskan genggamannya di pergelangan tangan Altheia.

“Duduklah.”

Jubah hitam panjang yang membungkus tubuhnya, basah oleh hujan. Rambutnya gelap, berantakan, dengan beberapa helai menempel di wajahnya. Namun, yang paling mencolok tetaplah matanya yang tajam, seperti bara api yang sepenuhnya padam. Aiden menghilang ke salah satu ruangan di sisi kastil, meninggalkan Altheia sendirian. Altheia menghela napas panjang, tangannya memeluk tubuhnya sendiri, berusaha meredakan dingin yang menjalari tulangnya.

Tidak butuh waktu lama sebelum Aiden kembali dengan sebuah jubah tebal berwarna gelap. Tanpa banyak bicara, ia mengulurkannya ke arah Altheia.

“Pakailah,” ucapnya singkat.

Altheia mengambil jubah itu. Ia menatap Aiden yang kini bersandar pada dinding dengan tangan terlipat di depan dada. Altheia mengenakan jubah yang diberikan Aiden. Meski masih terasa dingin, setidaknya kain tebal itu menghalau sedikit rasa beku di tubuhnya.

Ruangan itu masih sunyi. Hanya ada suara api bergerak di perapian yang baru saja dinyalakan Aiden. Ia berdiri di sudut ruangan, tubuhnya tetap dalam bayang-bayang. Tatapan matanya terus mengawasi Altheia, tetapi Altheia tidak bisa membaca apa pun dari ekspresi pria itu.

“Siapa kau?” suara Altheia terdengar lebih lemah dari yang ia inginkan.

Pria itu menatapnya sejenak sebelum akhirnya membuka suara.

“Aiden.”

Hanya itu. Tidak ada penjelasan lebih lanjut.

Altheia menghela napas dalam.

“Kenapa kau menyelamatkanku? Kenapa kau membunuh para Sentinels? Apa kau musuh mereka?”

Aiden hanya berbalik, meletakkan sesuatu di atas meja kayu, pedang hitam yang tampak berkilauan di bawah cahaya lilin.

“Musuh?” ulangnya pelan. “Aku bukan musuh siapa pun. Aku hanya seseorang yang lelah melihat sejarah yang sama terulang.”

Altheia mengerutkan kening. “Apa maksudmu?”

Aiden menghela napas, mendekat hingga jarak di antara mereka hanya beberapa langkah.

“Aku tidak menyelamatkanmu karena kebetulan,” suaranya lebih lembut kali ini, tetapi ada sesuatu yang dingin tersirat di dalamnya. “Aku menyelamatkanmu karena aku harus melakukannya.”

Altheia menggigit bibirnya, ingin menuntut jawaban lebih, tetapi sebelum ia sempat membuka mulut, Aiden berbalik.

“Sudah larut malam. Sebaiknya kau beristirahat.” Ia berjalan menuju lorong gelap di sisi lain ruangan. “Kita akan bicara lagi besok.”

Altheia hanya bisa menatap punggungnya menghilang dalam bayang-bayang kastil tua.

“Siapa sebenarnya pria itu? Dan kenapa, untuk sesaat, tatapan matanya terasa tidak asing, seperti aku pernah mengenalnya?”

🌙🌙🌙

Altheia terbangun dengan napas tersengal. Keringat dingin membasahi pelipisnya meski udara di dalam kastil begitu dingin. Mimpi itu datang lagi. Bayangan api, suara teriakan, dan rasa sakit yang tidak bisa ia jelaskan.

Ia memegang dadanya, merasakan detak jantung yang masih berdegup kencang. Matanya mengitari ruangan yang asing. Ia berada di sebuah kamar besar dengan langit-langit tinggi dan jendela kaca yang tertutup tirai. Cahaya samar dari luar muncul melalui celah-celahnya.

Ia tidak ingat kapan tertidur. Semalam, ia hanya duduk di dekat perapian, mencoba menghangatkan diri dan memahami situasinya. Namun, pikirannya yang penuh dengan kebingungan membuatnya kelelahan.

Saat ia hendak turun dari tempat tidur, suara ketukan terdengar. Sebelum ia sempat menjawab, pintu itu terbuka, dan Aiden masuk tanpa ragu.

Altheia terkejut, “Kau tidak tahu caranya mengetuk dan menunggu jawaban?”

Aiden menatapnya sekilas, “Aku sudah mengetuk.”

“Dan kau tetap masuk tanpa izin,” timpal Altheia.

Aiden mengabaikannya dan meletakkan sebuah nampan di meja kecil dekat tempat tidur, ada roti, keju, dan sepoci teh.

“Makanlah.”

Altheia melirik tajam, “Aku tidak lapar.”

Aiden menatapnya, kemudian duduk di kursi di sudut ruangan.

 “Kau butuh tenaga. Kita tidak bisa tinggal di sini selamanya.”

“Maksudmu?” tanya Altheia.

Aiden menyandarkan punggungnya, menatapnya dengan sorot mata yang sulit di baca.

“Sentinels tidak akan berhenti mencarimu. Mereka tahu kau masih hidup.”

Altheia mengepalkan tangannya. Ia tahu itu. Tidak ada tempat di dunia ini yang benar-benar bisa menyembunyikannya dari mereka.

“Tapi kenapa?” suara Altheia nyaris berbisik. “Kenapa mereka menginginkanku? Kenapa aku harus mati?”

Aiden memperhatikan gadis itu, seolah sedang menilai apakah ia sudah siap untuk mengetahui kebenaran.

“Karena jiwamu adalah kunci untuk membangkitkan Nyx Noctis.”

Altheia tercekat. “Apa maksudmu?”

Aiden bangkit dari kursinya, berjalan mendekati jendela yang masih tertutup tirai. Suara hujan semalam sudah menghilang, tapi hawa dingin masih terasa menggigit.

“Setiap dua ratus tahun, seorang gadis terpilih untuk menjadi persembahan bagi Nyx Noctis. Bukan darahmu yang mereka butuhkan,” ia menoleh, tatapan matanya menusuk. “Tapi jiwamu.”

Altheia merasakan napasnya terhenti.

“Kau adalah gadis yang memiliki tanda itu sejak lahir. Saat ritual di laksanakan, jiwamu akan terhisap sepenuhnya untuk membangkitkan Nyx Noctis,” lanjut Aiden. “Dan setelah itu … kau akan lenyap. Tidak akan ada lagi reinkarnasi, tidak akan ada kehidupan berikutnya.”

Jantung Altheia berdegup begitu kencang hingga ia bisa mendengar dentamnya.

“Jadi,” suaranya gemetar. “Aku hanya hidup untuk mati?”

Aiden terdiam. “Tidak, jika kita bisa menghentikannya,” dengan suara lembut ia menjawab.

Altheia menatap pria di hadapannya. “Apakah ada cara untuk melawan takdir?”

To Be Continue

🌙🌙🌙

Published : 8 Maret 2026—Media Ungu.

Kamu dapat temui karya milik Aksyarain_ pada laman Media Ungu di sini

Jangan lupa kunjungi akun resmi penulis, Tiktok @aksyarain dan Instagram @aksyarain_

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *