Blog

[Culturepia] BTS: Seberapa Jauh Jangkauan Budaya Global Korea Dapat Memperluas “Bahasa Perdamaian”?

Selama sekitar satu dekade terakhir, dunia menemukan cara baru untuk mengenal Korea: melalui musik, kisah, dan gagasan yang dibawa oleh BTS.

Anak-anak muda di berbagai belahan dunia mempelajari lirik berbahasa Korea, mencari tahu maknanya, dan bertukar penafsiran dengan orang-orang yang berada ribuan kilometer jauhnya. Orang-orang dari berbagai kewarganegaraan, etnis, dan latar belakang budaya yang menemukan titik temu melalui lagu-lagu dalam bahasa yang pada awalnya tidak mereka pahami.

Oleh karena itu, pengaruh global BTS tidak dapat diukur semata-mata berdaarkan posisi di tangga lagu, jumlah pemutaran daring, ataupun besarnya panggung konser mereka. Di inti karya mereka terdapat serangkaian gagasan yang terus berulang: belajar mencintai diri sendiri, menemukan keberanan untuk berbicara dengan suara sendiri, menerima perbedaan, serta menemukan cara untuk tetap terhubung meskipun terdapat perbedaan.

Jika dipandang sebagai satu kesatuan, gagasan-gagasan tersebut membentuk sesuatu yang lebih luas—sebuah bahasa perdamaian.

Perdamaian yang dimaksud bukanlah perdamaian dalam pengertian politik tradisional. Perdamaian merupakaan sesuatu yang lebih personal dan, barangkali, lebih sulit diwujudkan: suatu caradalam menjalin hubungan dengan sesama.

Hal tersebut berarti menghormatimartabat orang lain, menolak mengucilkan seseorang hanya karena ia berbeda, serta menyadari bahwa setiap individu memiliki kehidupan dan suara yang layak didengar.

Perdamaian Dimulai dari Cara Kita Berhubungan Satu Sama Lain

Jika kita mengikuti pesan BTS sepanjang perjalanan mereka, makna perdamaian mulai terlihat jaauh lebih luas daripada sekadar ketiadaan kekerasan.

Perdamaian mencakup kemampuan untuk mengakui perbedaan, menjaga suara diri sendiri, menghormati keberadaan orang lain, serta meyakini bahwa orang-orang yang berasal dari dunia yang sepenuhnya berbeda tetap dapat menemukan cara untuk terhubung.

Kampanye LOVE MYSELF, yang diluncurkan bTS bersama UNICEF pada 2017, merupakan salah satu contoh yang jelas. Tujuan langsung kampanye tersebut adalah membantu mencegah kekerasan dan tindakan penyalaahgunaan terhadap anak-anak serta kaum muda. Namun, pesan yang mendasarinya melampaui sekadar penolakan terhadap kekerasan itu sendiri.

Kampanye tersebut bermula dari inidividu—dari pembelajaran untuk menghormati dan mencintai diri sendiri—kemudian berkembang ke arah pengakuan atas matabat dan nilai orang lain. Perjalanannya bergerak dari penghormatan terhadap diri sendiri menuju penghormatan terhadap orang lain, dan dari individu menuju komunitas.

Dengan demikian, perdamaian tidak selalu harus dimulai dari institusi atau perjanjian. Perdamaian dapat bermula dari cara seseorang memandang orang lain.

Alih-alih berusaha mengubah, mengendalikan, atau mendominasi orang-orang di sekitar kita, sekaar mengakui hak orang lain untuk menjalani kehidupan sebagai dirinya sendiri dapat menjadi suatu bentuk tindakan perdamaian.

Perbedaan Bukanlah Lawan dari Perdamaian

Gagasan serupa muncul ketika BTS mengunjungi Gedung Putih pada 2022.

SUGA berbicara mengenai pentingnya menyadari bahwa menjadi berbeda bukanlah suatu kesalahan, serta bahwa kesetaraan bermula dari penerimaan terhadap perbedaan. Sementara itu, V menekankan bahwa setiap orang memiliki sejarahnya masing-masing dan layak dihargai serta dihormati.

Pernyataan tersebut memang singkat, tetapi merangkum suatu sikap yang telah berulang kali disampaikan BTS sepanjang perjalanan karier mereka.

Perdamaian tidak mengharuskan semua orang menjadi sama. Perdamaian menuntut kemampuan untuk hiup berdampingan tanpa memaksakan keseragaman.

Bahasa yang kita gunakan mungkin berbeda, budaya kita berbeda, dan kita mungkin tumbuh di lingkungan yang sepenuhnya berbeda sehingga memiliki cara berpikir yang juga berbeda. Namun, tidak menyangkal keberadaan orang lain dan justru membangun hubungan sambil mengakui perbedaan tersebut mungkin merupakan bentuk perdamaian yang lebih realistis.

Cara BTS membangun hubungan dengan fandom global mereka juga mencerminkan gagasan ini. Jutaan penggemar mereka tidak semuanya berbicara dalam bahasa yang sama atau berasal dari latar belakang budaya yang sama. Namun, mereka saling menerjemahkan bahasa, berbagi perasaan, dan membangun hubungan berdasarkan kecintaan yang sama terhadap musik.

Mereka tidak menghapus perbedaan yang ada. Sebaliknya, mereka menunjukkan bahwa hubungan tetap dapat terjalin meskipun perbedaan tersebut tetap ada.

Menemukan Nama dan Suara Kita Sendiri

Pidato RM di Sidang Umum PBB pada 2018 membuat filosofi ini menjadi semakin jelas. Ketika berbicara tentang kekurangan dan ketakutannya sendiri, ia mengajak orang-orang untuk memulai dengan mencintai diri sendiri, menemukan nama dan suara mereka sendiri, serta menceritakan kisah mereka sendiri.

Hal yang penting adalah bahwa pesan tersebut selalu berpusat pada individu. Di mana pun seseorang dilahirkan dan dalam kondisi apa pun mereka tumbuh, setiap orang memiliki kehidupan dan cerita mereka sendiri.

Ini juga menjadi salah satu ciri khas cara pandang yang dibangun BTS melalui musik mereka: kecenderungan untuk melihat seseorang sebagai individu, bukan menilainya hanya berdasarkan kategori besar atau gambaran yang sudah terbentuk sebelumnya.

Seseorang mungkin berbicara dengan bahasa yang berbeda, hidup dalam budaya yang berbeda, dan memiliki nilai-nilai yang sepenuhnya berbeda. Namun, orang tersebut tetap merupakan individu yang memiliki kecemasan dan harapan, kegagalan dan proses untuk berkembang.

Semakin luas cara pandang ini menyebar, semakin besar pula kemungkinan jarak antara manusia dapat diperkecil.

Kekuatan Budaya dalam Memperluas Perdamaian

Salah satu hal yang paling menarik dari kesuksesan global BTS adalah mereka tidak menjadi terkenal di seluruh dunia dengan menghilangkan identitas Korea mereka. Mereka memulai perjalanan di Korea dan membawa bahasa serta pengalaman mereka sendiri ketika menjangkau dunia.

Pengalaman-pengalaman yang sangat spesifik—mulai dari Seoul dan Ilsan, sekolah dan ruang latihan, hingga kecemasan dan tekanan yang dihadapi anak muda, rasa tidak menyukai diri sendiri, serta proses berkembang sebagai pribadi—ternyata dapat dirasakan oleh orang-orang di berbagai negara dan budaya.

Perbedaan budaya tidak menghilang. Sebaliknya, BTS menunjukkan bahwa kita bisa menemukan kesamaan meskipun perbedaan tersebut tetap ada. Inilah kekuatan budaya dalam memperluas jangkauan perdamaian.

Budaya tidak memerintahkan orang untuk berubah. Sebaliknya, budaya memungkinkan kita untuk merasakan kehidupan orang lain, meskipun hanya untuk sementara.

Ketika kita mendengarkan musik, membaca lirik, dan mengenal cerita orang lain, seseorang yang sebelumnya terasa jauh dapat mulai terasa lebih nyata dan dekat.

Awalnya, kita mungkin hanya melihat seseorang sebagai bagian dari bangsa atau kelompok etnis tertentu. Namun, ketika kita mengetahui musik yang mereka sukai, hal-hal yang mereka khawatirkan, kesedihan mereka, dan impian mereka, mereka tidak lagi hanya menjadi sebuah kategori. Mereka menjadi seorang individu.

Mungkin perdamaian memang bisa dimulai dari perubahan kecil dalam cara kita melihat orang lain seperti ini.

BTS dan ARMY: Sebuah “Komunitas Penerjemahan”

Hubungan yang dibangun BTS dan ARMY di seluruh dunia juga dapat dilihat dari sudut pandang ini. Orang-orang dari berbagai negara mendengarkan lagu yang sama dan menerjemahkan liriknya. Seseorang menyampaikan interpretasinya kepada orang lain, sementara para penggemar menjelaskan ungkapan dari budaya yang berbeda dan belajar bahasa satu sama lain.

Menerjemahkan bukan hanya soal mengubah kata-kata dari satu bahasa ke bahasa lain. Menerjemahkan juga merupakan usaha untuk memahami bahasa dan konteks budaya yang digunakan oleh orang lain.

Dalam hal ini, budaya menerjemahkan yang berkembang di dalam fandom BTS dapat dilihat sebagai sebuah tindakan kecil untuk menciptakan perdamaian.

Daripada langsung menolak sesuatu yang tidak kita pahami, kita berusaha memahaminya. Daripada menyerah pada sebuah hubungan hanya karena ada hambatan bahasa, kita mencari cara untuk melewatinya.

Banyak hubungan yang tercipta di dalam fandom BTS secara global menjadi mungkin justru karena budaya menerjemahkan dan berbagi seperti ini.

Kekuatan LOVE MYSELF yang Terus Meluas

Di antara berbagai pesan yang terus disampaikan BTS sepanjang karier mereka, mungkin yang paling penting adalah “LOVE MYSELF”.

Sekilas, pesan ini mungkin terlihat sebagai pesan pribadi tentang mencintai diri sendiri. Namun, jika kita melihat perjalanan kampanye tersebut dan berbagai perkataan BTS secara lebih luas, pesannya tidak berhenti pada mencintai diri sendiri.

Sekilas, pesan ini mungkin terlihat sebagai pesan pribadi tentang mencintai diri sendiri. Namun, jika kita melihat perjalanan kampanye tersebut dan berbagai perkataan BTS secara lebih luas, pesannya tidak berhenti pada mencintai diri sendiri.

Struktur ini sangat mirip dengan prinsip perdamaian. Semuanya dimulai dari mengakui keberadaan diri sendiri dan kemudian berkembang menjadi mengakui keberadaan orang lain.

Jika perdamaian tidak dapat dicapai hanya melalui pernyataan-pernyataan besar, maka sikap pribadi seperti ini juga penting.

Seseorang yang terus-menerus membenci dirinya sendiri mungkin akan kesulitan menghormati orang lain. Begitu juga seseorang yang merasa suaranya terus ditekan mungkin akan kehilangan kemampuan untuk memberikan ruang bagi suara orang lain.

Itulah sebabnya pesan BTS menghubungkan dunia batin seseorang dengan hubungan sosialnya. Perdamaian dimulai dari hubungan kita dengan diri sendiri dan kemudian berkembang menjadi hubungan kita dengan orang lain.

Mungkin BTS Telah Menunjukkan kepada Kita “Keterampilan untuk Menciptakan Perdamaian”

Jika berbagai aktivitas dan pernyataan BTS dilihat sebagai bagian dari satu rangkaian, beberapa benang merah akan terlihat.

Melalui LOVE MYSELF, mereka berbicara tentang menghargai diri sendiri. Di PBB, mereka mengajak orang-orang untuk tidak kehilangan suara mereka. Di Gedung Putih, mereka menekankan bahwa menjadi berbeda bukanlah sesuatu yang salah.

Setiap pernyataan tersebut disampaikan di tempat dan dalam konteks yang berbeda, tetapi semuanya mengarah pada hal yang hampir sama: tidak menghapus keberadaan seseorang.

Alih-alih mereduksi seseorang hanya menjadi bagian dari suatu kelompok atau sebuah gambaran tertentu, kita melihat mereka sebagai individu dengan nama dan kehidupan mereka sendiri.

Mungkin inilah “keterampilan menciptakan perdamaian” yang paling realistis yang telah ditunjukkan BTS kepada dunia.

Sebelum berbicara tentang perdamaian sebagai sebuah cita-cita besar, kita bisa memulainya dengan menghargai keberadaan diri sendiri, mengakui perbedaan orang lain, dan membangun hubungan di mana kita bersedia mendengarkan cerita satu sama lain.

Ini adalah cara membawa konsep perdamaian dari skala komunitas yang sangat besar menjadi sesuatu yang dimulai dari satu orang.

BTS dan ARMY juga telah menunjukkan dalam praktik bahwa hubungan-hubungan kecil yang dibangun dengan cara seperti ini dapat berkembang hingga ke skala global.

Apa yang Bisa Diberikan Kembali oleh Budaya Korea yang Telah Mendunia kepada Kita?

Kemunculan BTS merupakan salah satu contoh paling penting dari bagaimana budaya Korea berkembang dan menjangkau dunia. Namun, sekarang kita bisa mengajukan pertanyaan dari arah yang berbeda:

Apa yang mungkin berubah jika cara menciptakan hubungan yang telah berkembang melalui budaya Korea di seluruh dunia kita bawa kembali ke masyarakat kita sendiri?

Jutaan orang di seluruh dunia telah menerjemahkan lirik lagu Korea untuk memahami maknanya. Penggemar dari latar belakang budaya yang sangat berbeda juga mendengarkan musik yang sama dan menemukan kesamaan di dalamnya.

Dalam proses tersebut, identitas masing-masing orang tidak menghilang. Hubungan tercipta sementara perbedaan tetap ada.

Pengalaman ini mungkin merupakan salah satu aset paling berharga yang diperoleh budaya Korea melalui proses globalisasi.

Perdamaian mungkin bukan keadaan ketika semua orang berpikir dengan cara yang sama. Perdamaian lebih dekat dengan keadaan ketika orang-orang masih dapat melihat satu sama lain sebagai manusia, meskipun pemikiran, budaya, dan pengalaman hidup mereka berbeda.

Bahasa yang telah disebarkan BTS ke seluruh dunia selama bertahun-tahun mengarah tepat pada gagasan tersebut.

Dari mencintai diri sendiri hingga menghormati orang lain, dari menghormati orang lain hingga terhubung dengan budaya yang berbeda, dan dari memahami budaya yang berbeda hingga melihat orang asing sebagai sesama manusia yang memiliki kehidupan dan perasaan, bahasa perdamaian tersebut terus berkembang.

Ini bukan berarti BTS dapat menyelesaikan semua konflik di dunia. Tidak ada alasan untuk menuntut peran sebesar itu dari mereka.

Namun, yang penting adalah bahasa dan tindakan yang telah mereka bagikan secara konsisten selama bertahun-tahun meninggalkan sebuah pertanyaan penting bagi kita.

Jika orang-orang dari berbagai belahan dunia dapat memahami keberadaan satu sama lain melalui lagu-lagu berbahasa Korea, seberapa sering kita sendiri, dalam kehidupan sehari-hari, benar-benar melihat orang yang berbeda dari kita sebagai individu?

Mungkin tempat di mana perdamaian pada akhirnya terwujud bukanlah sebuah panggung besar, melainkan ruang di antara satu manusia dan manusia lainnya.

Perdamaian berarti mengakui perbedaan tanpa menghilangkan martabat orang lain, berusaha mendengarkan suara orang-orang yang memiliki cerita berbeda dari kita, dan mengingat bahwa mereka yang berbeda dari kita juga, sama seperti kita, adalah manusia yang mencintai, merasa khawatir, dan memiliki impian.

Mungkin aset paling penting yang dapat diberikan kembali kepada kita oleh budaya Korea yang telah membuka dirinya kepada dunia adalah tepatnya bahasa perdamaian ini—serta kemungkinan untuk terus memperluasnya.

Apa yang telah ditunjukkan BTS kepada dunia selama bertahun-tahun adalah bahwa perdamaian tidak selalu dimulai dari pernyataan besar. Perdamaian dapat dimulai dari tindakan sederhana: terus melihat orang lain sepenuhnya sebagai manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *